Jumat, 21 November 2014

Pemanfaatan Bahasa Indonesia Pada Tataran Ilmiah, semi ilmiah, dan non ilmiah

Wacana Ilmiah
karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Jenis-jenis wacana Ilmiah dapat berupa: makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi.

Contohnya:

Demam Berdarah Dengue (DBD)
          Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai "breakbone fever" atau "bonebreak fever" (demam sendi), karena demam tersebut dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah. Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti campak; dan nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Yang pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Yang kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.
           Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang telah terinfeksi satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius.
         Belum ada vaksin yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut. Terdapat beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk. Para ilmuwan juga menganjurkan untuk memperkecil habitat nyamuk dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada. Apabila seseorang terkena demam dengue, biasanya dia dapat pulih hanya dengan meminum cukup cairan, selama penyakitnya tersebut masih ringan atau tidak parah. Jika seseorang mengalami kasus yang lebih parah, dia mungkin memerlukan cairan infus (cairan yang dimasukkan melalui vena, menggunakan jarum dan pipa infus), atau transfusi darah (diberikan darah dari orang lain).
       Sejak 1960-an, semakin banyak orang yang terkena demam dengue. Penyakit tersebut mulai menimbulkan masalah di seluruh dunia sejak Perang Dunia Kedua. Penyakit ini umum terjadi di lebih dari 110 negara. Setiap tahun, sekitar 50–100 juta orang terkena demam dengue.
         Para ahli sedang mengembangkan obat-obatan untuk menangani virus secara langsung. Masyarakat pun melakukan banyak usaha untuk membasmi nyamuk.
Deskripsi pertama dari demam dengue ditulis pada 1779. Pada awal abad ke-20, para ilmuwan mengetahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus dengue, dan bahwa virus tersebut ditularkan (atau disebarkan) oleh nyamuk.


Wacana Semi Ilmiah
Wacana pada Tataran Semi Ilmiah merupakan wacana yang karakteristiknya berada di antara ilmiah dan non ilmiah.
Jenis-Jenis Wacana Semi Ilmiah : Artikel,Editorial,Opini,Feuture,Reportase.

Contohnya:

Manis Bagi Pejabat
Racun Untuk Rakyat
          PEMERINTAH pusat mulai membagi-bagikan permen yang mengandung racun. Inilah permen manis bagi pejabat yang menerima, tetapi racun karena mematikan daerah. Permen yang mengandung racun itu adalah Peraturan Pemerintah Nomomr 37 Tahun 2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan Anggota Dewan. Isinya mengatur pendapatan pimpinan anggota DPRD, yang terdiri atas uang representasi, tunjangan keluarga, tunjangan beras, uang paket, tunjangan jabatan, tunjangan panitia musyawarah, tunjangan komunikasi, dan tunjangan panitia anggaran. Jika setiap anggota DPRD mendapat Rp 80 juta daerah harus mengeluarkan Rp 1,2 triliun. Sungguh uang yang luar biasa manis, sekaligus inilah racun yang paling mematikan daerah. Kenapa? Karena, biaya untuk gaji anggota DPRD itu lebih besar daripada pendapatan asli daerah. Betapa ironis, pendapatan asli daerah minus setelah membayar gaji DPRD.
          Yang jelas, peraturan pemerintah itu semakin memperbesar jurang kaya dan miskin. Di tengah meningkatnya pengangguran, di tengah bertambahnya penduduk miskin yang mencapai 100 juta orang, ada segelintir elite anggota DPRD yang jumlahnya 15 ribu orang yang semakin kayak arena peraturan pemerintah itu. 
          Masih ada dampak negative lain, yaitu semakin maraknya pungutan daerah untuk menambah kas daerah. Berbagai pungutan itu diperlukan untuk menutupi deficit pendapatan asli daerah akibat membayar gaji anggota DPRD. Sudah pasti, peraturan pemerintah itu menambah bengkaknya anggaran negara yang digunakan untuk keperluan konsumtif. Padahal, tanpa adanya Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 itu pun, proporsi pengeluaran rutin untuk keperluan konsumtif sudah lebih besar. Adalah menyedihkan bahwa yang bertambah bukan untuk keperluan pembangunan yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan rakyat dari kemiskinan.
Dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 itu, bertambah kuat tanda-tanda negara ini agaknya sedang disetir menjadi surga hanya bagi kaum elite, yaitu elite legislative yang bernama wakil rakyat di daerah maupun di pusat. Soal waktu saja, keluar pula peraturan pemerintah yang pada gilirannya akan menyenangkan elite yang duduk di jajaran eksekutif dan yudikatif. Maka, sempurnalah negara ini menjadi negara yang manis bagi pejabat, tetapi racun bagi rakyat (Media Indonesia, 2007:1).
          Selain itu, boleh percaya boleh tidak, anggota DPRD masih mendapat tunjangan kesejahteraan berupa pemberian jaminan pemeliharaan kesehatan, pakaian dinas, serta biaya akibat perjalanan dinas. Akibatnya, sebagai gambaran, pendapatan yang diterima ketua DPRD provinsi mencapai Rp 36,269 juta, jauh melebihi pendapatan yang diterima Ketua Mahkamah Agung (Rp 24,390 juta) dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (Rp 23,940 juta). Jaraknya semakin jauh bagaikan langit dan bumi, bila dibandingkan dengan pendapatan gubernur (Rp 8,4 juta), terlebih dibanding bupati (Rp 5,8 juta).
          Permen itu semakin manis karena sekalipun Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 itu baru ditandatangani Presiden November lalu, tetapi dibuat berlaku mundur sejak 1 Januari 2006.


Wacana Non Ilmiah
Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri karangan non ilmiah:
  • ditulis berdasarkan fakta pribadi
  • fakta yang disimpulkan subyektif
  • gaya bahasa konotatif dan popular
  • tidak memuat hipotesis
  • penyajian dibarengi dengan sejarah
  • bersifat imajinatif
  • situasi didramatisir
  • bersifat persuasive
Macam-macam karya tulis non ilmiah
Dongeng, Cerpen, Novel, drama dan Roman.

Contohnya:



Dimana Indonesia Ku
Teringat dengan sejarah kerajaan Majapahit yang konon katanya berhasil mengasai banyak daerah, tidak hanya tanah dwipantara melainkan sampai ke semananjung cina, singapura, malasyia bahkan sampai ke tanah afrika, berkat kehebatan sosok sang maha patih yang sakti mandraguna, kuat, adil nan bijaksana, siapa lagi kalau bukan Mahapatih Gajah Mada, dengan sumpah palapa, yang awal kalinya mendapatkan cibiran dan kelakar tawa untuk menyatukan daratan dimana mulai matahari terbit sampai tenggelam dapat tercapai walaupun tidak sepenuhnya, tapi luasnya daratan yang menjadi kekuasaannya merupakan sebuah bukti bahwa sumpah palapa bukanlah sumpah biasa, yang hanya di ucapkan di mulut belaka.

Kehebatan Majapahit hanya dapat kita rasakan sisa-sisanya saja, daratan yang lumayan luas mulai dari sabang sampai merauke, merupakan sebuah peninggalan yang kita kenal dengan sebutan Indonesia, nama Indonesia yang pertama kali diperkenalkan oleh Kihajar Dewantara kepada dunia membuat dunia membuka mata, ada surga di dunia yang biasa di sebut Indonesia, kekayaan alam yang melimpah, mulai dari beragam tambang, hasil laut, hasil tanaman sampai binatang yang berbagai macam yang tidak bisa di temukan di Negara lainnya,hanya ada di Indonesia, tapi seiring berjalannya waktu, estafet kepemimpinan selalu jatuh pada orang yang durhaka, tamak akan dunia membuat Indonesia hanya tinggal nama.

Eksploitasi besar besaran membuat hutan lebih terlihat seperti lapangan bola, binatang tak mempunyai tempat untuk mencari makan, sehingga memilih tak mengenal manusia untuk selamanya, lautan yang jernih dengan hasil ikan yang melimpah, tapi sayang ketamaan manusia membuat segalanya menjadi musnah, hasil tambang besar tapi di buang ke luar, lalu dimana Indonesia ku ? dimana yang dulu katanya surga ada di dunia, masih layaknya bumi pertiwi ini di sebut Indonesia.

Yang lebih tragis manakala penghuni Indonesia harus bertieriak di tanah kelahirannya, ada yang mengais sampah untuk memenuhi perut, ada yang tertidur dengan pulas di atas tumpukan sampah, dikala pagi hari yang seharusnya memakai seragam sekolah masih banyak anak yang lebih suka berada di lampu merah, dimana Indonesia ku ?

Mari refleksi bersama pembaca yang budiman, dimana Indonesia ku ???




Sumber: 


baca juga: Penggunaan Bahasa Indonesia Secara Baik dan Benar



Referensi link untuk Mahasiswa Universitas Gunadarma:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar